Tampilkan postingan dengan label Cerpen anak2 kreatif :). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen anak2 kreatif :). Tampilkan semua postingan

7 Nov 2011

Sahabat itu Semangat


Sahabat itu Semangat
Karya: Kevin Chandra S


Waktu menunjukan pukul 7 pagi, namun Ian belum juga berangkat sekolah,aku heran sekali kenapa dia belum datang..tiba tiba ''tok tok tok!!'' suara pintu yang sepertinya mau ada orang masuk ke kelas ''ya masuk'' kata Pak Guru,tak di sangka ternyata itu Ian,terilhat dia sangat panik sambil ngos ngos an dia meminta maaf kepada Pak Guru ''Nghh Nghh Maaf pak saya terlambat,saya tadi lupa memakai sabuk.jadinya saya pulang lagi ke rumah'' cukup  kaget aku dengar kata kata itu,soalnya jarak rumah dia ke sekolah sangat jauh..sekitar 1 jam dengan berjalan kaki 'Ya sudah silahkan Duduk'.Ian duduk di sebelahku,sambil mengelap peluh aku bertanya pada Ian 'Heh,apa benar kamu balik ke rumah cuma gara gara sabuk?' 'ssst,diam ya Van!sebenarnya tadi aku itu salah seragam,jadinya aku balik lagi' kata Ian dengan paniknya.'Astaga,kamu masih kecil udah kaya kakek kakek aja..makanya minum baygon!hahaha' candaku 'Kejamnyah kau'.Akhirnya aku dan Ian mengikuti pelajaran seperti biasa,dengan serius dan tekun
'Teeeeeeet Teeeeeeet!' ah suara indah bagiku,ya itulah bel istirahat..dan itu tanda saatnya aku menabung di kantin hahahha 'Ian!yok ke kantin!aku laper nih!' ajaku kepada Ian 'Kamu sih apa yang ngga laper,badan ceking makan banyak!' ledek Ian 'Halah,kaya kamu ngga ceking!yaudah yuk ah,cuss ke kantin' ,sesampainya di kantin,seperti biasa Ian ke tukang Siomay,aku ke Tukang Mpek Mpek. 'Revan!yuk balik ke kelas!' teriaknya 'Tunggu ya!ini bakulnya lagi BM sih!jadinya aku lama di jualinya!' 'Yoi!aku padamu pokoknya hahaha!' .Setelah pempek sudah di tanganku kita balik ke kelas,karena berlari aku terjatuh 'Gedebuk!' untung saja kacamataku ga pecah,dengan sigap Ian langsung menolongku 'Revan Revan kalo jalan itu liat liat,jadi ga nyium lapangan hahaha' kata Pak Tomo yang sedang makan bakso 'hehehe,iya pak' sahutku malu.Kami langsung masuk ke kelas,karena sebentar lagi bel aku dan Ian makanya tergesa gesa,sampai sampai Ian tersedak,lucu sekali mukanya,konyol.
Oh Iya kalian pasti belum kenal sama Ian kan?kenalin nih sahabatku yang paling baik IAN NUR AZIZI tuh namanya,kalo namaku Revan Putra,aku sama Ian sahabatan baru sebentar..tapi entah kenapa aku dan Ian langsung akrab.Ian memang pindahan dari Lampung,karena itu kalau dia ngomong pasti bikin ketawa karena logat yang kental.Ian itu orangnya sangat baik,care,pokoknya ah enak deh di jadiin sahabat!hehehe.
Semuanya berawal dari sini,saat Ian mempunyai seorang pacar,Yap!semenjak itu Ian jadi berubah drastis.Jika seperti biasa Ian selalu sms aku kalau pulang sekolah,sekarang boro boro sms,aku sms aja gak pernah di bales.Aku sangat sedih,melebihi apapun pokoknya.Ian sekarang sudah sangat amat berbeda dari Ian yang ku kenal.Mulai hari itu aku dan Ian seperti ada jarak yang sangat jauh,yang tadinya sangat dekat seperti saudara,sekarang menjadi seperti bintang dengan bumi.Hingga pada akhirnya aku jatuh sakit,ya aku kena Tifus stadium 3.Entah kenapa semenjak kejadiann antara aku dan Ian,aku sering sekali drop,sungguh aku tak kuat untuk menghadai semua ini,dan seperti perkiraanku di saat teman sekelasku menengoku di rumah sakit Ian tak ikut,Ya Tuhan salah apa aku,di saat aku terkapar di rumah sakit sahabatku sendiri tak menengoku,sakit rasanya.Hari demi hari keadaanku semakin melemah,entah seperti apa keadaan tubuhku sekarang, ‘Dok,kapan aku sembuh?’ tanyaku penuh harapan,dengan sabar dokter berkata ‘Sebentar lagi,tenang saja’ walaupun aku sedikit tak percaya dengan kata-kata dokter,paling tidak itu kuanggap sebagai kata kata motivasi untuku.
Hingga pada akhirnya seseorang yang ku tunggu- tunggu datang juga,Ian datang menjenguku dengan membawa bingkisan dia menghampiriku dan bertanya ‘Gimana Van keaadanmu?sudah mendingan kah?’ ‘Ya beginilah keadaanku sekarang’ jawabku lemas ‘Semoga cepat sembuh ya,oh iya,maaf aku baru bisa jenguk aku sibuk belakangan ini’ ‘Oh iya Ian,gapapa kok hehehe’ entah berapa lama aku dan Ian berbincang,perbincangan kami mencangkup semua kenangan indah tentang kami.Akhirnya Ian pun berpamitan untuk pulang.
Setelah kedatangan Ian keadaanku mulai membaik,entah kenapa bisa begini,sampai akhirnya aku sembuh dan di perbolehkan pulang oleh dokter,betapa senangnya hatiku.Setelah itu aku menjalani hidup normal dan bermain lagi bersama sahabatku Ian,dan aku akhirnya bisa memetik hikmah dari semua kejadian ini bahwa Sahabat adalah suatu semangat yang murni.


25 Sep 2010

Pentingnya Bergaul

Seva Amira Devi namanya. Seorang gadis kecil berumur 12 tahun yang tinggal di sebuah rumah mewah bagaikan istana. Ia bisa dipanggil Seva. Menurutnya, teman tidaklah bermakna dalam hidupnya. Hanya harta dan kekayaan sajalah yang bermakna dalam hidupnya. Sehingga selama hidupnya, ia tak pernah keluar rumah begitu juga bergaul dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Bagaimana dengan sekolah? Orangtuanya terpaksa mencari guru privat untuk putri kedua nya ini. Sifatnya berbeda sekali dengan kakaknya yang bernama lengkap Arum Amira Devi. Yang biasa dipanggil Arum. Arum sangat sering bersosialisasi ataupun bergaul dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga, ia tidak memerlukan guru privat. Ia dapat bersekolah sendiri. Kini, ia bersekolah di SMPN BungaIndah. SMP ini hanya menerima anak-anak yang berprestasi. Sehingga SMP ini disebut “SMP FAFORIT”.
Suatu hari di hari Minggu “Sevi?” panggil Arum “iyaaaaaaaa, apa ka?” tanya Sevi “main sama Dhea yuk” ajak Arum “nggamau ka. Sevi mau di rumah saja” jawab Sevi “ayo dong, Seeev. Sekali-kali, kamu main bareng Rama, Ayu, Melda, dan teman-teman yang lain. Asik tau, main sama mereka. Masa kerjaanmu cuma nonton tv doang? Apa ngga bosen, Sev?” jelas Arum “ngga” jawab Sevi singkat, seperti mengabaikan penjelasan kakaknya itu “yasudah, kalau kamu ngga mau ikut. Biar kaka main sama mereka. Daaaaaaaah. Kaka pergi dulu” ujar Arum “hm, yayaya” jawab Sevi.
Di lain tempat. Di teras rumah Sevi dan Arum, di mana Arum dan teman-temannya sedang bermain “ka Arum?” sapa Melda “iya, ada apa dek?” tanya Arum “Sevi ngga ikut main?” tanya Melda “tadi udah kaka ajakin. Tapi dianya ngga mau. Yasudah, kaka ngga maksa” jelas Arum “eh ka, eh ka,” bisik Ayu “apa Yu?” tanya Arum “Sevi itu anak nya yang gimana sih? Ayu ngga pernah liat” ujar Ayu “kamu mau tau?” tanya Arum “aku juga mau tau kaaa” rengek Melda “oke. itu anak cewe yang lagi nonton tv. Liat kan?” jelas Arum “oh itu. Cantik kok ka” ujar Rama “jangan-jangan… kamu naksir yaaaa? Ihiy, Ramaa” seru Arum, Ayu, dan Melda “ya gitu” jawab Rama “gitu gimanaa?” ledek Melda “ya gitu” jawab Rama santai “hm, okedeh” kata Arum. Ayu dan Melda menangguk.
Keesokannya, “mamaaaaaaaaaa, aku mau pergi bareng temen-temeeeeen!” teriak Arum “iya, Rum. Hati-hati!” jawab Mama. Setelah Arum pergi, “Sev?” panggil mama “apa maaa?” tanya Seva “kamu ngga mau ikut main?” tanya mama “enggaaaaaaaa” jawab Seva “main sana” ujar mama “ngga maaaaaau! Asik di rumah, daripada main bareng tetangga!” teriak Sevi “dicoba dulu Sev. Jangan bilang ngga asik. Kalo kamu ngga mau nyoba, kapan nyoba nya?” ujar mama “tau ah!” jawab Sevi. Lalu berlari menuju kamarnya.
Di kamarnya, Sevi langsung memainkan gitar kesayangannya. Setiap kali ia ada masalah, pasti ia memainkan gitar nya itu “ku tak pernah berpikir … ♫ ini semua kan terjadi , ku belum siap tuk menerima semua yang telah terjadi … ♫” seru Sevi bernyanyi dan memainkan gitar nya “tok, tok, tok” terdengar suara pintu diketuk “maaasuk!” seru Sevi “waaaaah” teriak Arum “apaan ka?” tanya Sevi bingung “ternyaaaaaata! Kamu pinter nyanyi dan pinter main gitar ya?” tanya Arum “kenapa gitu?” belum sempat menjawab pertanyaan Arum, Sevi balik bertanya “kamu mau kaka masukin ke band kaka. Kamu mau?” jelas Arum “ah? Berarti bergaul dengan temen-temen? Nggamau ah! Ngga asik!” ujar Sevi “ngga asik gimana, Sev? Asik loh Sev!” ajak Arum “ngga asik aaaaaaaaaaaaah!” ujar Sevi “gimana kalo besok kaka ajak kamu main bareng temen-temen?” tanya Arum “nggaamaaau!” jawab Sevi keras. Ia langsung terdiam “oke. kalo itu mau kamu. kaka ngga akan maksa” kata Arum sambil tersenyum. Lalu, Arum keluar menuju kamar nya yang berada di depan kamar Sevi.
Esoknya, pagi hari. Arum sudah tidak ada di rumah. Sevi bingung, dia berpikir “ka Arum ke mana ya?” pikir Sevi cemas “kamu nyari Arum?” tanya mama “iya, ma. Sevi cari ka Arum. Sevi takut, ada apa-apa dengan ka Arum” jawab Sevi “udah, udah. Pasti nanti dia pulang kok” ujar mama menenangkan Sevi “iya ma” jawab Sevi cemas.
Sevi langsung menuju kamarnya. Tiba-tiba, ada ketukan pintu. “masuk” teriak Sevi “kaka, bawa temen-temen ini. Kita main yuk” ajak Arum “hm, ngga ah. Ngga asik!” jawab Sevi “asik ko, Sev. Coba dulu deh” ujar Arum “nggamau!” jawab Sevi “asik kok Sev” ajak Melda “iya, asik Sev” tambah Ayu “yuk, Sev” ajak Rama sambil menarik tangan Sevi “ihiy, Ramaaaaa” canda Arum “eh, maaf” bisik Rama, lalu melepaskan tangan Sevi “nggapapa kok” jawab Sevi “hm, kita main di kamar mu aja ya?” ujar Arum menghapus keheningan “oke deh” jawab Sevi, wajah Sevi terlihat lebih baik “hm, mau main apa?” tanya Sevi “maaaain…” ucapan Ayu terputus “…main pancasila ada 5 aja yuk” ajak Rama “lagi-lagi, Ramaa…” ujar Arum “aku? Aku kenapa ka?” tanya Rama bingung “nggajadi ah” ledek Arum.
Setelah mereka bermain pancasila ada 5 “Rama?” panggil Sevi “apa Sev?” tanya Rama “besok main lagi yaaaaa?” ajak Sevi “oke deh!” jawab Rama “Sev” bisik Arum “apa ka?” jawab Sevi “kasian tuh si Ayu sama Melda, ngga diajak main lagi sama kamu. sedangkan si…” ucapan Arum terputus “…Rama yang kamu aja main” lanjut Arum “hehe” bisik Sevi. Pipi Sevi memerah “kamu suka ya sama Rama?” tebak Melda “ehehe. Eng…” jawab Sevi “lupakan aja deh” seru Sevi mengapus keheningan “aku pulang dulu yaaaa?” izin Rama “iyaaaaaaaaaaaaaa” jawab Sevi “kita juga ya?” izin Ayu dan Melda “iyaaaa” jawab Arum.
Setelah mereka pulang, Sevi kembali ke kamar nya bersama Arum “kaa” bisik Sevi “apa Sev?” tanya Arum “Rama sekolah di mana ka?” tanya Sevi “di SMP BungaIndah” jawab Arum sambil membaca komik “nanti Sevi minta papa sama mama buat sekolah di SMP BungaIndah aaah. Dan biar bisa ketemu Rama setiap hari” jelas Sevi “apa kamu bilang?” tanya Arum kaget “ups…aku keceplosan!” teriak Sevi “alaaah, kamu suka ya sama Rama” tebak Arum “hehe, iya” jawab Sevi malu “bener dugaan kaka! Eh eh , katanya sih si Rama juga suka sama kamu!” seru Arum “ah iya? beneraan?” tanya Sevi “iya” jawab Arum singkat “hehe” gumam Sevi “kaka keluar dulu yaaa?” izin Arum “iya kaa” jawab Sevi.
Setelah Arum keluar dari kamarnya, “ternyata, main dan bergaul sama temen-temen asik juga. Ngga rugi deh, tadi aku mau main sama mereka. Hari ini adalaaaaaaaah hari yang tak akan pernah aku lupakaaan! Tanpa mereka, mungkin aku ngga akan bisa mandiri dan aku ngga akan pernah sadar, gimana rasa nya main dan bergaul sama temen-temen. Dan mungkin selama nya aku ngga akan tau apa arti dari kata SAHABAT. Dan mungkin aku akan selalu berpikir `apa gunanya teman-teman? Apakah teman-teman itu bermanfaat? Apakah asik bermain bersama teman-teman? Dan aku akan selalu menganggap rumah adalah tempat yang paling asik. Dan menonton tv adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan` ternyata dugaanku salah. Rumah tak selama nya menjadi tempat yang paling asik, lama kelamaan pasti kita akan bosan dengan semua yang ada di rumah. Begitu juga dengan menonton tv. Jika kita menonton tv pagi-malam, itu dapat merusak mata kita. Sekarang aku sadar, teman-teman adalah segalanya, tanpa teman-teman dan pergaulan aku tak akan sadar akan semua ini. Terimakasih ka Arum, terimakasih semuanya. Dan kalau saja tadi aku ngga mau ketemu mereka, aku ngga akan kenal dengan Rama. Rama, orang yang sangatlah baik. Melda, dan Ayu. Melda dan Ayu adalah teman yang baik. Hehe” bisik Sevi.


Karya:Belqis Mutiara P D

23 Agu 2010

Jangan Lupain aku!

Rere seorang perempuan yang cantik mempunyai pacar bernama aso . Aso adalah seorang laki-laki yang mempunyai band terkenal di seluruh dunia . Saat ini Aso sedang memikirkan masalah yang di hadapinya . Aso bingung harus bagaimana karena dia harus pergi selama 3 minggu untuk manggung di luar negeri tepatnya di negeri sakura atau yang di sebut negeri Jepang .
“ Re , aku mau nanya sama kamu. “ Aso bertanya kepada Rere
“tentang apa so ?” Rere berbalik tanya
“sepertinya aku harus ninggalin kamu selama 3 minggu untuk manggung di negeri Jepang”
“apa? 3 minggu katamu?” Rere kaget dengan apa yang di dengar tadi
“………..” Aso terdiam karena Rere begitu kaget
“baiklah , ku izinkan . tapi … kasih kabar ya” Rere mengizinkan Aso
2 minggu lebih 5 hari telah berlalu . Sebuah kejutan menghampiri Rere , Aso pulang lebih cepat dari dugaan Rere . Rere yang begitu kagetnyapun langsung memeluk Aso karena kangen .
1 hari setelahnya Rere dan Aso pun berangkat sekolah . Waktu istirahat berbunyi . Sahabat Rere (shana) tidak sengaja mendengar percakapan Aso dengan anak bandnya berbincang pada Managernya . Shana begitu kaget mendengar semua itu , ia segera lari menuju Rere untuk memberitahukannya .
“Rere ! Rere !” Shana yang berteriak mencari – cari Rere
“Shana ? ada apa kamu teriak teriak begitu ?” Rere yang mulai kebingungan
“gawat Re ! tadi aku mendengar percakapan Aso dengan menagernya ! katanya .. katanyaa..” Shana sambil ngos ngosan karena habis berlari lari
“kenapa si Shan ? ngomongnya pelan pelan saja . Pasti aku dengerin kok”
“Aso ! tadi aku tidak sengaja mendengarnya! Katanya Aso dan anak bandnya harus ke luar negeri lagi! Dia harus ke Peranciss ! Tapi bukan hanya itu , dia harus disana selama 1 tahun untuk menyelesaikan kerjaannya sebagai anak band !” Shana yang berteriak berteriak mengasitahukan kepada Rere
Jantung yang berdetak sangat kencang , tetesan air mata yang dikeluarkan Rere pun menyelimuti suasana . Rere tidak percaya dengan hal yang di kasitahui dari Shana dan segera lari ke Aso untuk membuktikannya .
“Aso?! Apa benar ? apa benar kamu …..” Rere yang melihat Aso keluar dari ruangan dan segera bertanya
“kenapa Re? benar apa?” Aso yang berbalik Tanya
“apa kamu benar akan pergi ke Peranciss untuk menyelesaikan pekerjaanmu disana ?” Rere yang bertanya sambil menangis
“iya . itu semua benar Re . Tapi .. kenapa kamu sampai menangis? Jangan menangis dong?” Aso yang menenangkan Rere
“apa kamu bilang ? jangan menangis ? aku ga mau kamu ke Perancis selama 1 tahun so! Kamu ini mikirin aku ga si ? pokoknya aku ga setuju!” Rere yang membentak Aso , dan segera lari untuk meninggalkan Aso pergi ke UKS .
Aso yang kebingungan karena pintunya di kunci oleh Rere dan harus menunggu Rere keluar dari ruang UKS , 12 menit kemudian ……
“cekkleekk” pintu UKS terbuka
“Rere?” Aso senang karena Rere sudah keluar
“Aso .. makasih karena selalu ada di samping ku “
“Rere?” Aso mengacungkan tangan
“pergilah ke Perancis . Kerjakan secepat mungkin , dan maaf mungkin aku terlalu memikirkan diriku sendiri .” Rere yang sambil menangis
“benarkah ? aku beruntung punya pacar sepertimu” Aso memeluk Rere
“tapi so . tolong JANGAN LUPAIN AKU “ Rere yg mengeluarkan air mata yang begitu banyak menyelimuti suasana .


By: Lnda Ayumna P (SMP N 1 CILACAP)

SAHABAT SEJATI :)

      Berawal dari kata “Hai” kami akhirnya dipertemukan. Sejak TK aku memang sudah dekat dengan temanku yang suka di ikat dua ini,bahkan sangat dekat. Persahabatan kami berlanjut hingga SD. Semakin lama,kami semakin dekat. Aku sering bermain kerumahnya,dan begitu pula ia. Yang aku ingat,dulu kami sangat senang main “engklek” dan petak umpet. Lucu sekali . Sampai akhirnya kami lulus SD dan kami diterima di SMP yang “SAMA”.

Panggil saja sahabatku ini Diny. Diny sering sekali menelepon rumah ku untuk sekedar bertanya “Riny,lagi apa nih? Aku kangen banget sama kamu…”. Padahal,kami baru bertemu di sekolah TADI ! Memang benar-benar lucu perempuan berambut pendek ini.
Di suatu waktu,ia bertemu dengan seorang lelaki bernama Gilang. Dia adalah murid baru dikelas kami. Diny semangat sekali bila bercerita tentangnya {jelas lah,namanya juga pujaan hati} . Namun,Gilang tidak dekat dengan Diny,melainkan dekat denganku. Maka dari itu Diny sering bertanya tentang Gilang kepadaku.

Sampai akhirnya,di suatu malam si “cowo” ini mengatakan perasaannya kepada Diny{berkat comblangannya siapa dulu,Riny gtu loch}. Diny sangat senag dan tanpa berfikir panjang ia langsung berkata “YA,aku mau”.

***

Dua bulan,tiga bulan,hubungan mereka baik. Tetapi lama lama,Gilang jauh lebih dekat denganku. Aku sering pulang bersama dengan Gilang,hingga membuat Diny “CEMBURU” berat. Memang aku sadari itu. Kami memang sangat sangat dekat. Tapi ingat,kami hanyalah “SAHABAT”. Aku pun bertekad untuk bicara langsung dengan Diny sepulang sekolah nanti. Dan akhirnya saat itu tiba. “Din,aku mohon kamu jawab jujur,apakah kamu ce………” belum selesai aku bicara Diny memotongnya “Cukup ! Aku tidak mau dengar semua penjelasanmu lagi. Semua itu hanya omong kosong!” Diny terdengar sangat marah. Pipinya pun mulai di basahi dengan tetesan air matanya,”Aku telah menganggapmu lebih dari seorang saudara Riny,namun kamu merusak semua! Kamu merusaknya dengan berselingkuh dengan ………” “Cukup Din! Apa kamu tahu betapa sayang dan cintanya Gilang sama kamu! Apa kamu tahu?! Dia hanyalah teman curhatku! Hanya TEMAN!!”. Akhirnya aku pun ikut menangis. “DIAM! Hapus saja air mata buayamu Riny! Aku sangat sayang sama Gilang,sayang sayang bangett…. Tapi kamu ngerusak semuanya,kamu PENGHIANAT!!! PENGHIANAT!! AKU BENCI KAMU!! BENCI!!!” kata Diny sambil menjauh dari tempatku berasal. “Diny!! Maafkan aku…” (Oh my god,sabar Riny sabar,Diny hanyalah emosi,sabar,sabar). Tak lama setelah itu aku pun pingsan.

***

“Bagaimana keadaan anak saya,Dok?” Suara mama terdengar sangat serius. Karena penasaran akhirnya aku bertekad untuk menguping. “Tenang ya bu,saya akan membacakan hasilnya”. Mama terlihat sangat tidak sabar,”Maaf bu,anak Ibu terkena penyakit Kanker Darah”. Dengan sangat kagetnya aku pun langsung lari sejauh mungkin. (Aku,terkena Kanker Darah? Ya Tuhan,apakah aku mimpi?)

***

“Apa? Apakah aku harus juga harus ikut pindah?” mataku mulai berkaca kaca,”Ya,sayang,kau pun harus ikut pindah,kau juga harus berobat. Kau harus sembuh”. Kata kata Papa membuatku meneteskan air mataku. (Jadi,aku harus berpisah dengan kedua sahabatku? Tidak,tidak mungkin. Aku masih ingin bersama mereka. Oh,ya! Diny! Aku harus bercerita dengannya. Malam ini juga!) Aku langsung mengambil telepon dan…“Halo,bisa bicara dengan Diny?” “Oh,maaf,Diny sedang keluar dengan kedua orang tuanya,ini siapa ya?” “Oh,saya Riny Bi,tolong sampaikan kepada Diny ya,kalau saya tadi telepon.” “Baiklah,Non.”

***

Esoknya. Di sekolah aku mengejar-ngejar Diny. “Diny! Tunggu,aku ingin bicara. Ini penting. Diny!”. Ucapanku terdengar menggema di lorong sekolah. Tiba tiba ada yang memegang pundakku dari belakang. Gilang! “Dia masih marah denganmu?” tanyanya. “Mungkin…” suaraku terdengar sangat lemah. “Ini semua memang salahku…”. Mendengar perkataanku Gilang lansung memegang tangan kananku.( Oh my god,tangannya lembut sekali). Kataku dalam hati. “Kalau ini salahmu,ini juga salahku”. Lalu Gilang memelukku. Ya Tuhan. Mimpi apa aku semalam. “Maaf,Gilang,mau sampai kapan kamu memelukku?” “Oh,maaf,aku tidak bermaksud untuk…” “Tidak jadi masalah,kita kan sahabat” senyuman tersungging di mukaku dan muka Gilang. Tidak lama setelah itu,aku pingsan lagi.

***

“Sudah siap semua sayang?” suara Mama terdengar jelas di telingaku. “Iya ma,sebentar. Aku tinggal memasukan………” ucapanku terhenti setelah aku melihat fotoku dengan Diny yang terpajang jelas di meja belajarku,dan sebelahnya fotoku dengan Gilang. Gilang? (Andai aku bisa bertemu dengan kalian lagi,Diny,kamu adalah sahabat terbaikku. Dan kamu Gilang,kamu adalah teman yang sangat bisa mengerti aku). “Dini,ayo cepat,nanti kita bisa tertinggal pesawat.” “Iya ma,tapi kita ke rumah Gilang dulu ya,aku ingin memberitahunya soal ini.” “Baiklah,ayo cepat!”

***

Bel sudah berbunyi, (Rini mana sih? Apa jangan jangan dia sakit? Ah,apa urusannya dengan aku? Dia kan sudah mengkhianati Persahabatan kita.) Diny berbicara di dalam hati. Seusai pelajaran,Gilang menemui Diny dan memberikan surat pemberian Riny. Surat?
“Surat apa ini?” Diny pensaran. “Baca saja,dia memberikannya kepadaku sebelum ia pergi. Aku pulang dulu,selamt membaca.” Pergi? Pergi kemana Riny? Kenapa dia ngga bilang sama aku ya?

***

Sesampainya dirumah Diny langsung membuka isinya dan………

Untuk sahabatku Diny,

Hai,sobat,apa kabarmu saat ini? Mungkin saat kamu membaca surat ini,aku sudah tidak lagi di Indonesia. Aku pindah ke Jerman mengikuti orangtuaku. Dan aku pun sekalian berobat. Selama ini tanpa aku ketahui,aku terkena penyakit kanker darah stadium dua . Dan aku sudah ingin sekali mengatakan hal ini kepadamu. Namun kamu selalu menghindar dariku. Apa kamu masih marah sama aku tentang masalah Gilang?

Aku dan Gilang hanyalah bersahabat. Sebelum dia menyatakan perasaannya kepadamu,dia telah menyatakan perasaannya duluan kepadaku. Sebenarnya dia juga “cowo” yang aku suka. Aku hanya bohong kepadamu tentang aku suka dengan Radit. Itu hanyalah sebuah alasan. Namun aku teringat kepadamu. Sahabatku dari kecil,yang selalu menemaniku sepanjang hidupku. Aku teringat bahwa kamu juga suka dengan Gilang. Akhirnya aku menolak perasaan Gilang,walaupun rasanya sakit di hatiku,tapi hanya demi kamu,aku merelakannya. Seminggu setelah Gilang menyatakan perasaannya kepadaku,aku menyomblangkan kamu dengannya,lalu Gilang berkata “Aku melakukan ini hanya demi kamu. Demi kamu Riny.” “Terimakasih”

Gilang selalu berkata bahwa dia tidak bisa jatuh hati kepadamu,namun aku selalu berkata pada Gilang,”Rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya,Gilang.” Gilang pun berkata,”Walaupun kita tidak bisa menjadi pasangan,apakh kita bisa bersahabat?”
Hatiku sangat sakit ketika mendengarkan ceritamu tentang Gilang. Saat kamu makan malam bersama Gilang,saat kalian berpegangan tangan,saat Gilang mengatakan “I LOVE YOU Diny”. Rasanya hatiku seperti diris dengan pisau. Perih. Tapi semua itu aku lakukan demi kamu. Sahabat sejatiku.

Mungkin sekian dulu surat dari aku. Kita masih bisa chatting-an kan? Terus hubungi aku ya kawan. SEE YOU…

Eh,Nomor Hp aku ngga ganti koq… Bye… Ingat ya “DON’T FORGET ME”

Sahabat mu,

Riny :)

***

Setelah membaca surat ari Riny,Diny menangis. Ia sangat menyesal kenapa saat itu dia tidak mau mendengarkan perkataan Riny. (Bodoh,bodoh,bodoh,aku hanya termakan rasa cemburu. Ternyata rasa sakit itu lebih dirasakanoleh Riny,Ya Tuhan maafkan aku. Aku telah sering menghinanya,tetapi malah ia yang membuatku bahagia… Maafkan aku sahabat,aku sangat menyesal… Aku takkan pernah melupakanmu…)


By: Aprilia Rahma K (SMP N 1 CILACAP)