23 Agu 2010

SAHABAT SEJATI :)

      Berawal dari kata “Hai” kami akhirnya dipertemukan. Sejak TK aku memang sudah dekat dengan temanku yang suka di ikat dua ini,bahkan sangat dekat. Persahabatan kami berlanjut hingga SD. Semakin lama,kami semakin dekat. Aku sering bermain kerumahnya,dan begitu pula ia. Yang aku ingat,dulu kami sangat senang main “engklek” dan petak umpet. Lucu sekali . Sampai akhirnya kami lulus SD dan kami diterima di SMP yang “SAMA”.

Panggil saja sahabatku ini Diny. Diny sering sekali menelepon rumah ku untuk sekedar bertanya “Riny,lagi apa nih? Aku kangen banget sama kamu…”. Padahal,kami baru bertemu di sekolah TADI ! Memang benar-benar lucu perempuan berambut pendek ini.
Di suatu waktu,ia bertemu dengan seorang lelaki bernama Gilang. Dia adalah murid baru dikelas kami. Diny semangat sekali bila bercerita tentangnya {jelas lah,namanya juga pujaan hati} . Namun,Gilang tidak dekat dengan Diny,melainkan dekat denganku. Maka dari itu Diny sering bertanya tentang Gilang kepadaku.

Sampai akhirnya,di suatu malam si “cowo” ini mengatakan perasaannya kepada Diny{berkat comblangannya siapa dulu,Riny gtu loch}. Diny sangat senag dan tanpa berfikir panjang ia langsung berkata “YA,aku mau”.

***

Dua bulan,tiga bulan,hubungan mereka baik. Tetapi lama lama,Gilang jauh lebih dekat denganku. Aku sering pulang bersama dengan Gilang,hingga membuat Diny “CEMBURU” berat. Memang aku sadari itu. Kami memang sangat sangat dekat. Tapi ingat,kami hanyalah “SAHABAT”. Aku pun bertekad untuk bicara langsung dengan Diny sepulang sekolah nanti. Dan akhirnya saat itu tiba. “Din,aku mohon kamu jawab jujur,apakah kamu ce………” belum selesai aku bicara Diny memotongnya “Cukup ! Aku tidak mau dengar semua penjelasanmu lagi. Semua itu hanya omong kosong!” Diny terdengar sangat marah. Pipinya pun mulai di basahi dengan tetesan air matanya,”Aku telah menganggapmu lebih dari seorang saudara Riny,namun kamu merusak semua! Kamu merusaknya dengan berselingkuh dengan ………” “Cukup Din! Apa kamu tahu betapa sayang dan cintanya Gilang sama kamu! Apa kamu tahu?! Dia hanyalah teman curhatku! Hanya TEMAN!!”. Akhirnya aku pun ikut menangis. “DIAM! Hapus saja air mata buayamu Riny! Aku sangat sayang sama Gilang,sayang sayang bangett…. Tapi kamu ngerusak semuanya,kamu PENGHIANAT!!! PENGHIANAT!! AKU BENCI KAMU!! BENCI!!!” kata Diny sambil menjauh dari tempatku berasal. “Diny!! Maafkan aku…” (Oh my god,sabar Riny sabar,Diny hanyalah emosi,sabar,sabar). Tak lama setelah itu aku pun pingsan.

***

“Bagaimana keadaan anak saya,Dok?” Suara mama terdengar sangat serius. Karena penasaran akhirnya aku bertekad untuk menguping. “Tenang ya bu,saya akan membacakan hasilnya”. Mama terlihat sangat tidak sabar,”Maaf bu,anak Ibu terkena penyakit Kanker Darah”. Dengan sangat kagetnya aku pun langsung lari sejauh mungkin. (Aku,terkena Kanker Darah? Ya Tuhan,apakah aku mimpi?)

***

“Apa? Apakah aku harus juga harus ikut pindah?” mataku mulai berkaca kaca,”Ya,sayang,kau pun harus ikut pindah,kau juga harus berobat. Kau harus sembuh”. Kata kata Papa membuatku meneteskan air mataku. (Jadi,aku harus berpisah dengan kedua sahabatku? Tidak,tidak mungkin. Aku masih ingin bersama mereka. Oh,ya! Diny! Aku harus bercerita dengannya. Malam ini juga!) Aku langsung mengambil telepon dan…“Halo,bisa bicara dengan Diny?” “Oh,maaf,Diny sedang keluar dengan kedua orang tuanya,ini siapa ya?” “Oh,saya Riny Bi,tolong sampaikan kepada Diny ya,kalau saya tadi telepon.” “Baiklah,Non.”

***

Esoknya. Di sekolah aku mengejar-ngejar Diny. “Diny! Tunggu,aku ingin bicara. Ini penting. Diny!”. Ucapanku terdengar menggema di lorong sekolah. Tiba tiba ada yang memegang pundakku dari belakang. Gilang! “Dia masih marah denganmu?” tanyanya. “Mungkin…” suaraku terdengar sangat lemah. “Ini semua memang salahku…”. Mendengar perkataanku Gilang lansung memegang tangan kananku.( Oh my god,tangannya lembut sekali). Kataku dalam hati. “Kalau ini salahmu,ini juga salahku”. Lalu Gilang memelukku. Ya Tuhan. Mimpi apa aku semalam. “Maaf,Gilang,mau sampai kapan kamu memelukku?” “Oh,maaf,aku tidak bermaksud untuk…” “Tidak jadi masalah,kita kan sahabat” senyuman tersungging di mukaku dan muka Gilang. Tidak lama setelah itu,aku pingsan lagi.

***

“Sudah siap semua sayang?” suara Mama terdengar jelas di telingaku. “Iya ma,sebentar. Aku tinggal memasukan………” ucapanku terhenti setelah aku melihat fotoku dengan Diny yang terpajang jelas di meja belajarku,dan sebelahnya fotoku dengan Gilang. Gilang? (Andai aku bisa bertemu dengan kalian lagi,Diny,kamu adalah sahabat terbaikku. Dan kamu Gilang,kamu adalah teman yang sangat bisa mengerti aku). “Dini,ayo cepat,nanti kita bisa tertinggal pesawat.” “Iya ma,tapi kita ke rumah Gilang dulu ya,aku ingin memberitahunya soal ini.” “Baiklah,ayo cepat!”

***

Bel sudah berbunyi, (Rini mana sih? Apa jangan jangan dia sakit? Ah,apa urusannya dengan aku? Dia kan sudah mengkhianati Persahabatan kita.) Diny berbicara di dalam hati. Seusai pelajaran,Gilang menemui Diny dan memberikan surat pemberian Riny. Surat?
“Surat apa ini?” Diny pensaran. “Baca saja,dia memberikannya kepadaku sebelum ia pergi. Aku pulang dulu,selamt membaca.” Pergi? Pergi kemana Riny? Kenapa dia ngga bilang sama aku ya?

***

Sesampainya dirumah Diny langsung membuka isinya dan………

Untuk sahabatku Diny,

Hai,sobat,apa kabarmu saat ini? Mungkin saat kamu membaca surat ini,aku sudah tidak lagi di Indonesia. Aku pindah ke Jerman mengikuti orangtuaku. Dan aku pun sekalian berobat. Selama ini tanpa aku ketahui,aku terkena penyakit kanker darah stadium dua . Dan aku sudah ingin sekali mengatakan hal ini kepadamu. Namun kamu selalu menghindar dariku. Apa kamu masih marah sama aku tentang masalah Gilang?

Aku dan Gilang hanyalah bersahabat. Sebelum dia menyatakan perasaannya kepadamu,dia telah menyatakan perasaannya duluan kepadaku. Sebenarnya dia juga “cowo” yang aku suka. Aku hanya bohong kepadamu tentang aku suka dengan Radit. Itu hanyalah sebuah alasan. Namun aku teringat kepadamu. Sahabatku dari kecil,yang selalu menemaniku sepanjang hidupku. Aku teringat bahwa kamu juga suka dengan Gilang. Akhirnya aku menolak perasaan Gilang,walaupun rasanya sakit di hatiku,tapi hanya demi kamu,aku merelakannya. Seminggu setelah Gilang menyatakan perasaannya kepadaku,aku menyomblangkan kamu dengannya,lalu Gilang berkata “Aku melakukan ini hanya demi kamu. Demi kamu Riny.” “Terimakasih”

Gilang selalu berkata bahwa dia tidak bisa jatuh hati kepadamu,namun aku selalu berkata pada Gilang,”Rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya,Gilang.” Gilang pun berkata,”Walaupun kita tidak bisa menjadi pasangan,apakh kita bisa bersahabat?”
Hatiku sangat sakit ketika mendengarkan ceritamu tentang Gilang. Saat kamu makan malam bersama Gilang,saat kalian berpegangan tangan,saat Gilang mengatakan “I LOVE YOU Diny”. Rasanya hatiku seperti diris dengan pisau. Perih. Tapi semua itu aku lakukan demi kamu. Sahabat sejatiku.

Mungkin sekian dulu surat dari aku. Kita masih bisa chatting-an kan? Terus hubungi aku ya kawan. SEE YOU…

Eh,Nomor Hp aku ngga ganti koq… Bye… Ingat ya “DON’T FORGET ME”

Sahabat mu,

Riny :)

***

Setelah membaca surat ari Riny,Diny menangis. Ia sangat menyesal kenapa saat itu dia tidak mau mendengarkan perkataan Riny. (Bodoh,bodoh,bodoh,aku hanya termakan rasa cemburu. Ternyata rasa sakit itu lebih dirasakanoleh Riny,Ya Tuhan maafkan aku. Aku telah sering menghinanya,tetapi malah ia yang membuatku bahagia… Maafkan aku sahabat,aku sangat menyesal… Aku takkan pernah melupakanmu…)


By: Aprilia Rahma K (SMP N 1 CILACAP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar