25 Sep 2010

Pentingnya Bergaul

Seva Amira Devi namanya. Seorang gadis kecil berumur 12 tahun yang tinggal di sebuah rumah mewah bagaikan istana. Ia bisa dipanggil Seva. Menurutnya, teman tidaklah bermakna dalam hidupnya. Hanya harta dan kekayaan sajalah yang bermakna dalam hidupnya. Sehingga selama hidupnya, ia tak pernah keluar rumah begitu juga bergaul dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Bagaimana dengan sekolah? Orangtuanya terpaksa mencari guru privat untuk putri kedua nya ini. Sifatnya berbeda sekali dengan kakaknya yang bernama lengkap Arum Amira Devi. Yang biasa dipanggil Arum. Arum sangat sering bersosialisasi ataupun bergaul dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga, ia tidak memerlukan guru privat. Ia dapat bersekolah sendiri. Kini, ia bersekolah di SMPN BungaIndah. SMP ini hanya menerima anak-anak yang berprestasi. Sehingga SMP ini disebut “SMP FAFORIT”.
Suatu hari di hari Minggu “Sevi?” panggil Arum “iyaaaaaaaa, apa ka?” tanya Sevi “main sama Dhea yuk” ajak Arum “nggamau ka. Sevi mau di rumah saja” jawab Sevi “ayo dong, Seeev. Sekali-kali, kamu main bareng Rama, Ayu, Melda, dan teman-teman yang lain. Asik tau, main sama mereka. Masa kerjaanmu cuma nonton tv doang? Apa ngga bosen, Sev?” jelas Arum “ngga” jawab Sevi singkat, seperti mengabaikan penjelasan kakaknya itu “yasudah, kalau kamu ngga mau ikut. Biar kaka main sama mereka. Daaaaaaaah. Kaka pergi dulu” ujar Arum “hm, yayaya” jawab Sevi.
Di lain tempat. Di teras rumah Sevi dan Arum, di mana Arum dan teman-temannya sedang bermain “ka Arum?” sapa Melda “iya, ada apa dek?” tanya Arum “Sevi ngga ikut main?” tanya Melda “tadi udah kaka ajakin. Tapi dianya ngga mau. Yasudah, kaka ngga maksa” jelas Arum “eh ka, eh ka,” bisik Ayu “apa Yu?” tanya Arum “Sevi itu anak nya yang gimana sih? Ayu ngga pernah liat” ujar Ayu “kamu mau tau?” tanya Arum “aku juga mau tau kaaa” rengek Melda “oke. itu anak cewe yang lagi nonton tv. Liat kan?” jelas Arum “oh itu. Cantik kok ka” ujar Rama “jangan-jangan… kamu naksir yaaaa? Ihiy, Ramaa” seru Arum, Ayu, dan Melda “ya gitu” jawab Rama “gitu gimanaa?” ledek Melda “ya gitu” jawab Rama santai “hm, okedeh” kata Arum. Ayu dan Melda menangguk.
Keesokannya, “mamaaaaaaaaaa, aku mau pergi bareng temen-temeeeeen!” teriak Arum “iya, Rum. Hati-hati!” jawab Mama. Setelah Arum pergi, “Sev?” panggil mama “apa maaa?” tanya Seva “kamu ngga mau ikut main?” tanya mama “enggaaaaaaaa” jawab Seva “main sana” ujar mama “ngga maaaaaau! Asik di rumah, daripada main bareng tetangga!” teriak Sevi “dicoba dulu Sev. Jangan bilang ngga asik. Kalo kamu ngga mau nyoba, kapan nyoba nya?” ujar mama “tau ah!” jawab Sevi. Lalu berlari menuju kamarnya.
Di kamarnya, Sevi langsung memainkan gitar kesayangannya. Setiap kali ia ada masalah, pasti ia memainkan gitar nya itu “ku tak pernah berpikir … ♫ ini semua kan terjadi , ku belum siap tuk menerima semua yang telah terjadi … ♫” seru Sevi bernyanyi dan memainkan gitar nya “tok, tok, tok” terdengar suara pintu diketuk “maaasuk!” seru Sevi “waaaaah” teriak Arum “apaan ka?” tanya Sevi bingung “ternyaaaaaata! Kamu pinter nyanyi dan pinter main gitar ya?” tanya Arum “kenapa gitu?” belum sempat menjawab pertanyaan Arum, Sevi balik bertanya “kamu mau kaka masukin ke band kaka. Kamu mau?” jelas Arum “ah? Berarti bergaul dengan temen-temen? Nggamau ah! Ngga asik!” ujar Sevi “ngga asik gimana, Sev? Asik loh Sev!” ajak Arum “ngga asik aaaaaaaaaaaaah!” ujar Sevi “gimana kalo besok kaka ajak kamu main bareng temen-temen?” tanya Arum “nggaamaaau!” jawab Sevi keras. Ia langsung terdiam “oke. kalo itu mau kamu. kaka ngga akan maksa” kata Arum sambil tersenyum. Lalu, Arum keluar menuju kamar nya yang berada di depan kamar Sevi.
Esoknya, pagi hari. Arum sudah tidak ada di rumah. Sevi bingung, dia berpikir “ka Arum ke mana ya?” pikir Sevi cemas “kamu nyari Arum?” tanya mama “iya, ma. Sevi cari ka Arum. Sevi takut, ada apa-apa dengan ka Arum” jawab Sevi “udah, udah. Pasti nanti dia pulang kok” ujar mama menenangkan Sevi “iya ma” jawab Sevi cemas.
Sevi langsung menuju kamarnya. Tiba-tiba, ada ketukan pintu. “masuk” teriak Sevi “kaka, bawa temen-temen ini. Kita main yuk” ajak Arum “hm, ngga ah. Ngga asik!” jawab Sevi “asik ko, Sev. Coba dulu deh” ujar Arum “nggamau!” jawab Sevi “asik kok Sev” ajak Melda “iya, asik Sev” tambah Ayu “yuk, Sev” ajak Rama sambil menarik tangan Sevi “ihiy, Ramaaaaa” canda Arum “eh, maaf” bisik Rama, lalu melepaskan tangan Sevi “nggapapa kok” jawab Sevi “hm, kita main di kamar mu aja ya?” ujar Arum menghapus keheningan “oke deh” jawab Sevi, wajah Sevi terlihat lebih baik “hm, mau main apa?” tanya Sevi “maaaain…” ucapan Ayu terputus “…main pancasila ada 5 aja yuk” ajak Rama “lagi-lagi, Ramaa…” ujar Arum “aku? Aku kenapa ka?” tanya Rama bingung “nggajadi ah” ledek Arum.
Setelah mereka bermain pancasila ada 5 “Rama?” panggil Sevi “apa Sev?” tanya Rama “besok main lagi yaaaaa?” ajak Sevi “oke deh!” jawab Rama “Sev” bisik Arum “apa ka?” jawab Sevi “kasian tuh si Ayu sama Melda, ngga diajak main lagi sama kamu. sedangkan si…” ucapan Arum terputus “…Rama yang kamu aja main” lanjut Arum “hehe” bisik Sevi. Pipi Sevi memerah “kamu suka ya sama Rama?” tebak Melda “ehehe. Eng…” jawab Sevi “lupakan aja deh” seru Sevi mengapus keheningan “aku pulang dulu yaaaa?” izin Rama “iyaaaaaaaaaaaaaa” jawab Sevi “kita juga ya?” izin Ayu dan Melda “iyaaaa” jawab Arum.
Setelah mereka pulang, Sevi kembali ke kamar nya bersama Arum “kaa” bisik Sevi “apa Sev?” tanya Arum “Rama sekolah di mana ka?” tanya Sevi “di SMP BungaIndah” jawab Arum sambil membaca komik “nanti Sevi minta papa sama mama buat sekolah di SMP BungaIndah aaah. Dan biar bisa ketemu Rama setiap hari” jelas Sevi “apa kamu bilang?” tanya Arum kaget “ups…aku keceplosan!” teriak Sevi “alaaah, kamu suka ya sama Rama” tebak Arum “hehe, iya” jawab Sevi malu “bener dugaan kaka! Eh eh , katanya sih si Rama juga suka sama kamu!” seru Arum “ah iya? beneraan?” tanya Sevi “iya” jawab Arum singkat “hehe” gumam Sevi “kaka keluar dulu yaaa?” izin Arum “iya kaa” jawab Sevi.
Setelah Arum keluar dari kamarnya, “ternyata, main dan bergaul sama temen-temen asik juga. Ngga rugi deh, tadi aku mau main sama mereka. Hari ini adalaaaaaaaah hari yang tak akan pernah aku lupakaaan! Tanpa mereka, mungkin aku ngga akan bisa mandiri dan aku ngga akan pernah sadar, gimana rasa nya main dan bergaul sama temen-temen. Dan mungkin selama nya aku ngga akan tau apa arti dari kata SAHABAT. Dan mungkin aku akan selalu berpikir `apa gunanya teman-teman? Apakah teman-teman itu bermanfaat? Apakah asik bermain bersama teman-teman? Dan aku akan selalu menganggap rumah adalah tempat yang paling asik. Dan menonton tv adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan` ternyata dugaanku salah. Rumah tak selama nya menjadi tempat yang paling asik, lama kelamaan pasti kita akan bosan dengan semua yang ada di rumah. Begitu juga dengan menonton tv. Jika kita menonton tv pagi-malam, itu dapat merusak mata kita. Sekarang aku sadar, teman-teman adalah segalanya, tanpa teman-teman dan pergaulan aku tak akan sadar akan semua ini. Terimakasih ka Arum, terimakasih semuanya. Dan kalau saja tadi aku ngga mau ketemu mereka, aku ngga akan kenal dengan Rama. Rama, orang yang sangatlah baik. Melda, dan Ayu. Melda dan Ayu adalah teman yang baik. Hehe” bisik Sevi.


Karya:Belqis Mutiara P D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar